Balada of My First Snack Parcel

Senin 15 April 2019

Besok datang yah, yudisium jadi.

Akhirnya mereka tiba di penghujung perjuangan meraih titel -S. Sos-. Bersyukur sekaligus terharu, sebagai junior akulah yang menjadi saksi perjalanan mereka.

Besok mereka akan menuai hasil jerih payah selama ini-kurang lebih empat tahun. Sedang aku belum menemukan ide, kado seperti apa untuk hari spesial mereka. Mereka di sini tak lebih dari dua orang by the way, orang terdekat selama penyusunan proposal. Teman seperjuangan memburu tanda tangan dosen pembimbing. Kami yang dipertemukan selama masa-masa sulit.

Jariku mulai mengetik, browsing di internet, kado apa yang biasa dibawa pada acara-acara seperti ini. Jujur ini pertama kali buatku. Scroll, scroll, aku menjatuhkan pilihan pada mug atau Snack Parcel.

Bunga sudah biasa menurutku, mug pun demikian tapi setidaknya lebih berguna dari boneka apalagi setangkai bunga. Terlebih teman yang kumaksud salah satunya adalah seorang laki-laki. Mug adalah pilihan terbaik untuk dia yang doyan ngopi. Selain itu akan lebih praktis, sisa pesan online. Namun, kenyataan tidak sesimpel rencanaku. Seller-nya tidak menyanggupi pesanku, terlalu mendadak keluh mereka. Benar juga, aku tidak mikir kesana.

Akhirnya snack parcel menjadi pilihan terakhir, dan itu berarti harusnya malam ini alat dan bahannya harus ada, aku hanya perlu me-review kembali pelajaran keterampilanku. Mengingat di sekitar Makassar belum ada yang punya bisnis demikian, masih jarang bawa kado berupa snack, soalnya. Anti-mainstream ceritanya.:D

Dan lagi, nasib tidak berpihak, kondisiku tidak memungkinkan, sepulang dari kampus aku full bed rest, tepar. Sempat kehilangan kesadaran dan gejala flu yang menyerang membuatku K.O dan juga, sudah larut untuk keluar.

Ah, sudahlah, memang mustahil untuk hadir besok, malu rasanya datang tanpa 'buah tangan'. Sekalipun yah tidak akan ada yang protes. Bahkan untuk orang yang saya sebut teman tadi-Tuan Kopi, belum ada gelagat mengundangku padahal sejak tadi notif status online terus muncul.

Dongkol juga rasanya. But it's ok, gak masalah mungkin besok. Harapku sambil menguji kepekaannya. Maaf yah, Pak. kadang kita butuh 'merasa penting', kayak Emaknya Doraemon tadi, dia ingat dan mengharap kehadiranku. Kamu pun harusnya begitu. Kamu dan dia sama, besok adalah hari kalian, kawan. Kali ini kamu aja yang peka yah.:D

Jarum pendek jam berada di antara angka sebelas dan dua belas dan mataku perih bertambah berat melihat layar untuk menyimak tutorial pembuatan parcel. Tenggorokanku kering juga perih, hidung kesumbat, tiap sendi terasa ngilu agaknya aku harus tidur sekarang. Adapun besok terjadilah apa yang akan terjadi, semangat untuk membersamai kini berguguran. Aku demam.

'Ok, sekarang tidur. Besok pagi harus bangun dan fit lagi, all is well. Inshaallah.' Doaku dengan sisa harap untuk hadir, sebelum kesadaranku terenggut ke alam mimpi. ----

Selasa, 16 April 2019. Langit masih gelap saat aku mulai menyetrika jilbab sambil merunut apa-apa yang harus kubeli. Toko-toko yang menyediakan bahan yang kuinginkan juga bukanya jam delapan, acaranya mulai pukul sembilan, masih sempat insyaallah. Syukurnya, pagi ini seperti pintaku semlaam, aku kembali fit. Hanya sedikit loyo.

Drrt ... drrt ... drrt .... Sebuah notif chat masuk.

Emak Doraemon : 'Nda' jadika saya yudis.'

Kaget? Jelas! Setelahnya dia men-spam-ku dengan rutukan penuh kejengkelan. Merasa dipermainkan. Lalu, tidak lama si Tuan Kopi ikut mengomentari postinganku terkait ketidakjelasan status mereka; hari ini tetap yudisium, katanya. Sontak aku tertawa, geli. Ah, mengapa alam seolah mengajak mereka bercanda, menarik ulur hingga akhir. Sungguh.

And now, aku masih sibuk dengan parcel yang tak kunjung jadi sementara di dalam sana, penyerahan piagam pada mahasiswa dengan nilai tertinggi dimulai. Perasaanku campur aduk. Semalam tutorialnya terlihat simpel saja dan yah membuat bingkisan tidak akan serumit ini jika saja kain wrapping-sebagai salah satu bahan utama tidak habis stok, dan yang tersisa hanya kertas metallik. Itu lebih baik dari kertas marmer dkk. Biarlah. Tetap konsentrasi berpacu dengan waktu, memeras otak, menggali kreativitas- yang pas-pasan. Sedikit kelegaan aku tidak harus membuat dua parcel, cukup satu. Tidak untuk Tuan Kopi. Meski semua snack yang kubeli nyaris semua kesukaannya. Kenapa? Alasannya cukup jelas, hingga penghujung acara agaknya dia tidak ada niat untuk aku turut serta di acaranya.

Srrrrgh ... Fix aku datang tanpa hadiah. Itulah yang ada di benakku saat ini. Frustasi! Kertas yang tengah kubentuk sedemikian rupa malah sobek. Arrgh!

Pelan aku memijit pelipis, yang sedari tadi berkedut pening. Kutarik nafas pelan lalu melirik jam, sudah satu jam sejak acara dimulai. Sudah terlanjut telat, sekalian datang pas sesi foto-foto. Tenang. Tidak apa-apa. Kembali fokus, kertasnya kulipat sedemikian rupa untuk menutupi bagian yang robek.Barang lima belas menit, akhirnya jadi, meski tidak sesempurna ekspektasi tapi itulah karya tanganku. Tidak mengapa.

Riuh gemuruh terdengar, aku mencoba melihat ke dalam, benar saja tawa haru tampak jelas di wajah-wajah mereka.

Baarakallahu fiikum.

Terselip doa bisa segera menyusul mereka.

Tak lama, setelah mengirimkan chat si emak datang menjemput. Terlalu banyak mahasiswa di depan pintu membuatku ragu masuk sendiri. And as always, gadis berniqab di sampingku mulai heboh mengambil gambar, bareng si doi-snack parcel, yang cacat. Ah, sebutan 'ratu selfi' agaknya cocok buat dia.

Tuan kopi? Actually, Aku tidak berniat menemukan dia di sini sekarang-depan gedung ma'had, sebagaimana tadi aku pun tidak mencoba mencarinya di antara mahasiswa. Itu inginku karena baru saja dia melewatiku ... dan egoku kalah dengan kata hati, ketika aku memilih untuk berbagi sebungkus saltcheese, salah satu favoritnya. AM | 16/04/19

Komentar