Cerpen- Hujan Telah Reda
HUJAN TELAH REDA
Good Day Moccacino kuseruput perlahan. Ah, rupanya dinginnya malam enggan berlalu bersama hangatnya secangkir kopi di tanganku. Atmosfer malam begitu menggoda untuk kembali bergumul bersama bantal dan selimut. Mushaf hafalan yang sedari tadi dalam genggam, kututup perlahan.
Ddrrrttt ...ddrrrtt ...
Smartphone dalam kantong gamis hijauku bergetar zig-zag. Hati-hati aku merogoh kantongku. Terpampang nomor anonim di LCD-nya. Tak lama terdengar suara dari seberang sana. Terdengar kikuk.
“Gimana kabarnya?”
Deg!
Beberapa bulan berlalu ternyata masih sangat berefek bagiku. Dia bukan orang asing apalagi salah sambung. Aku mengenalnya. Ya, dia Ismail.
“Masih hidup.” Jawabku terkesan dingin. Inilah aku yang dia kenal sebelumnya.
Ia tertawa geli. Selalu seperti itu. Terkadang aku merasa dipermainkan. Pertahanan yang kubuat seakan tak terbaca olehnya.
“Aku gak berniat menggoda atau gimana, yah. Tapi, lo tahu gak, orang bijak berkata, mungkin saja kita fokus pada satu sisi buruk sesorang tapi kamu lupa bahwa mungkin saja dia telah berubah, Mai, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”
Kamu tidak merayuku tapi kamu sudah berhasil membuka satu sekat pertahananku. Sambungan kuputus, aku tidak ingin semakin larut.
Udara malam terasa menyesakkan. Lembaran ingatan bersamanya kini terpampang nyata di depan mataku.
-----
Kuperhatikan anak-anak tetangga telah bermetamorfosa seiring perkembangan zaman. Budaya timur telah tergeser dengan budaya barat dengan konsep ‘bebas bersuara’. Orang tua dipaksa bungkam dan anak-anaklah yang kemudian harus kritis. Batas-batas agama didobrak budaya elit.
Hati ini miris, terluka. Fakta bahwa mereka adalah saudariku, berhasil menyudutkanku. Tak adil rasanya ketika nikmat iman itu kudekap sendiri. Apa yang harus kulakukan?
Hidup di tengah masyarakat dengan kesadaran beragama yang sangat minim sangat mungkin dakwahku akan bertabrakan dengan budaya yang telah mengental. Haruskah aku diam saja ketika tahu bahwa ini semua keliru?
Di tengah kegamangan hati. Semangat dakwah dan kepercayaan diri timbul tenggelam. Dia datang. Dia, Ustadz Ismail-begitulah masyarakat memanggilnya. Dia dengan kepekaan sosial serta komunikasi mumpuni mengantar warga desa menemukan oasis iman.
Pada suatu senja menjelang bedug maghrib, dia menelponku.
“ Kamu punya gambaran gak, masyarakat di sini tuh, ngatasinnya gimana?”
“ Gimana menurutmu kalau ba’da subuh ada pengajian?”
Dia bertanya seakan kami adalah teman lama. Tapi, tak jarang pertanyaannya memaksaku untuk menjawabnya dengan ketus, tapi Ia justru merasa aku berbeda.
Ismail, apa yang sebenarnya kau pikirkan tentangku?
“Mai, kalau aku datang ke rumah kamu. Gimana?” tanyanya lagi yang di suatu subuh.
“'Afwan,.. ditolak! Mau buat fitnah?” Suara jutekku menggema.
“Eh, kok buat fitnah? Orang mau khitbah.” Tawanya terdengar.
“Gak lucu. Lain kali liat dulu gih bicaranya sama siapa.” Dia tertawa lagi. Aku semakin gemas.
“Emangnya aku badut apa? Dikit-dikit ketawa.”
“Mai, kamu tuh lucu.” Ujarnya serius dan lembut terdengar begitu tenang. Diam-diam hatiku bergetar.
“Tapi, aku serius loh. Ada kenalan yang cocok gak?” Yah inilah yang sebenarnya. Terlalu berharap, ketika aku percaya dia benar-benar memilihku. Siapa aku?
"Hafsah. Kamu kenal ‘kan yang anaknya pak RT?”
“Hafshah... Iya, kenal. Tapi ...”
Aku menghembus nafas sembari mengingat Hafshah, teman sepermainanku. Dia pendiam, cerdas, ramah, cantik lagi. Ah, seketika namanya membuatku cemburu.
---
Dua minggu berlalu, kabar proses ta’aruf Ismail dan Hafsah terdengar kandas karena pihak ketiga. Entah kenapa tatapan masyarakat membuatku merasa akulah orang ketiga itu. Selanjutnya, aku harus menelan pil pahit, ketika Ismail datang ke rumah seolah membenarkan isu yang beredar.
“Ini bukan masalah orang ketiga, dari awal menghubunginya untuk mengorek informasi tentangmu. Kabar ta’aruf dengannya itu keliru.” Jelas Ismail, sadar bahwa aku tak luput dari kabar burung yang beredar.
Tindakannya membuatku kecewa sekaligus bingung. Kenapa dia harus datang setelah isak tangis Hafshah kudengar jelas, tangis tersebabkan diri ini telah merekomendasikannya pada ikhwan yang telah memutus proses ta’aruf secara sepihak dan ternyata hari ini justru memilih dan meng-khitbah-ku. Haruskah aku menerimanya saat Hafshah gadis baik itu menanggung malu? Seakan dialah yang mengharapkan Ismail. Ah, ini tidak adil!
“Mai, gimana?” desak Ismail, meminta kejelasan.
Apakah Ismail tak sadar, menerimanya justru membuatku semakin tampak jahat?
Apakah Ismail tak sadar perlahan warna merah jambu yang pernah mengharapkannya kini dipudarkannya, perlahan menjadi kelabu?
----
Aku melangkah dengan ritme sangat pelan. Fokus kameraku tetap mengarah pada objek alam yang begitu abu-abu, mendung dan itu terlihat sangat eksotis. Dengan gaya setengah jongkok, kududukkan kamera di atas rerumputan. Memahat keangkuhan langit yang kini terlihat begitu kelam dan saat itulah siluet bayangan seorang ikhwan terekam fokus lensa kameraku. Kualihkan kedua manikku dari layar monitor kamera, menatap bayangan di sana.
Glekkk.
Ismail..
Sontak aku berbalik menjauh disaat yang sama kudengar suaranya menyebutkan namaku. Kakiku terus melangkah mengalahkan hati yang ternyata masih sempat untuk berhenti menanti panggilan selanjutnya. Hati ini merintih bersama tetesan hujan yang mulai merintik. Pesannya kemarin malam masih kuingat jelas.
Assalamu’alaykum, Mai. Semoga kamu di sana baik-baik saja dan masih Mai yang dulu. Dingin. Menyihirku untuk terus memikirkanmu. Umpan tak terbalas, apa dayaku. Kamu masih saja enggan memaafkan khilafku. Duh, apa sih nih. Mai, datang, ya, ke acara walimahku besok lusa. Ismail-melipat kenangan bersamamu.
Kuhembuskan nafas secara perlahan. Aku sadar, semua akan berlalu. Aku pun masihlah Mairah. Pelangi pun masih melengkung menoreh senyum padaku, seperti sekarang. Oh iya, hujan telah reda dari tadi.
*Telah diterbitkan oleh Harian Amanah
Good Day Moccacino kuseruput perlahan. Ah, rupanya dinginnya malam enggan berlalu bersama hangatnya secangkir kopi di tanganku. Atmosfer malam begitu menggoda untuk kembali bergumul bersama bantal dan selimut. Mushaf hafalan yang sedari tadi dalam genggam, kututup perlahan.
Ddrrrttt ...ddrrrtt ...
Smartphone dalam kantong gamis hijauku bergetar zig-zag. Hati-hati aku merogoh kantongku. Terpampang nomor anonim di LCD-nya. Tak lama terdengar suara dari seberang sana. Terdengar kikuk.
“Gimana kabarnya?”
Deg!
Beberapa bulan berlalu ternyata masih sangat berefek bagiku. Dia bukan orang asing apalagi salah sambung. Aku mengenalnya. Ya, dia Ismail.
“Masih hidup.” Jawabku terkesan dingin. Inilah aku yang dia kenal sebelumnya.
Ia tertawa geli. Selalu seperti itu. Terkadang aku merasa dipermainkan. Pertahanan yang kubuat seakan tak terbaca olehnya.
“Aku gak berniat menggoda atau gimana, yah. Tapi, lo tahu gak, orang bijak berkata, mungkin saja kita fokus pada satu sisi buruk sesorang tapi kamu lupa bahwa mungkin saja dia telah berubah, Mai, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”
Kamu tidak merayuku tapi kamu sudah berhasil membuka satu sekat pertahananku. Sambungan kuputus, aku tidak ingin semakin larut.
Udara malam terasa menyesakkan. Lembaran ingatan bersamanya kini terpampang nyata di depan mataku.
-----
Kuperhatikan anak-anak tetangga telah bermetamorfosa seiring perkembangan zaman. Budaya timur telah tergeser dengan budaya barat dengan konsep ‘bebas bersuara’. Orang tua dipaksa bungkam dan anak-anaklah yang kemudian harus kritis. Batas-batas agama didobrak budaya elit.
Hati ini miris, terluka. Fakta bahwa mereka adalah saudariku, berhasil menyudutkanku. Tak adil rasanya ketika nikmat iman itu kudekap sendiri. Apa yang harus kulakukan?
Hidup di tengah masyarakat dengan kesadaran beragama yang sangat minim sangat mungkin dakwahku akan bertabrakan dengan budaya yang telah mengental. Haruskah aku diam saja ketika tahu bahwa ini semua keliru?
Di tengah kegamangan hati. Semangat dakwah dan kepercayaan diri timbul tenggelam. Dia datang. Dia, Ustadz Ismail-begitulah masyarakat memanggilnya. Dia dengan kepekaan sosial serta komunikasi mumpuni mengantar warga desa menemukan oasis iman.
Pada suatu senja menjelang bedug maghrib, dia menelponku.
“ Kamu punya gambaran gak, masyarakat di sini tuh, ngatasinnya gimana?”
“ Gimana menurutmu kalau ba’da subuh ada pengajian?”
Dia bertanya seakan kami adalah teman lama. Tapi, tak jarang pertanyaannya memaksaku untuk menjawabnya dengan ketus, tapi Ia justru merasa aku berbeda.
Ismail, apa yang sebenarnya kau pikirkan tentangku?
“Mai, kalau aku datang ke rumah kamu. Gimana?” tanyanya lagi yang di suatu subuh.
“'Afwan,.. ditolak! Mau buat fitnah?” Suara jutekku menggema.
“Eh, kok buat fitnah? Orang mau khitbah.” Tawanya terdengar.
“Gak lucu. Lain kali liat dulu gih bicaranya sama siapa.” Dia tertawa lagi. Aku semakin gemas.
“Emangnya aku badut apa? Dikit-dikit ketawa.”
“Mai, kamu tuh lucu.” Ujarnya serius dan lembut terdengar begitu tenang. Diam-diam hatiku bergetar.
“Tapi, aku serius loh. Ada kenalan yang cocok gak?” Yah inilah yang sebenarnya. Terlalu berharap, ketika aku percaya dia benar-benar memilihku. Siapa aku?
"Hafsah. Kamu kenal ‘kan yang anaknya pak RT?”
“Hafshah... Iya, kenal. Tapi ...”
Aku menghembus nafas sembari mengingat Hafshah, teman sepermainanku. Dia pendiam, cerdas, ramah, cantik lagi. Ah, seketika namanya membuatku cemburu.
---
Dua minggu berlalu, kabar proses ta’aruf Ismail dan Hafsah terdengar kandas karena pihak ketiga. Entah kenapa tatapan masyarakat membuatku merasa akulah orang ketiga itu. Selanjutnya, aku harus menelan pil pahit, ketika Ismail datang ke rumah seolah membenarkan isu yang beredar.
“Ini bukan masalah orang ketiga, dari awal menghubunginya untuk mengorek informasi tentangmu. Kabar ta’aruf dengannya itu keliru.” Jelas Ismail, sadar bahwa aku tak luput dari kabar burung yang beredar.
Tindakannya membuatku kecewa sekaligus bingung. Kenapa dia harus datang setelah isak tangis Hafshah kudengar jelas, tangis tersebabkan diri ini telah merekomendasikannya pada ikhwan yang telah memutus proses ta’aruf secara sepihak dan ternyata hari ini justru memilih dan meng-khitbah-ku. Haruskah aku menerimanya saat Hafshah gadis baik itu menanggung malu? Seakan dialah yang mengharapkan Ismail. Ah, ini tidak adil!
“Mai, gimana?” desak Ismail, meminta kejelasan.
Apakah Ismail tak sadar, menerimanya justru membuatku semakin tampak jahat?
Apakah Ismail tak sadar perlahan warna merah jambu yang pernah mengharapkannya kini dipudarkannya, perlahan menjadi kelabu?
----
Aku melangkah dengan ritme sangat pelan. Fokus kameraku tetap mengarah pada objek alam yang begitu abu-abu, mendung dan itu terlihat sangat eksotis. Dengan gaya setengah jongkok, kududukkan kamera di atas rerumputan. Memahat keangkuhan langit yang kini terlihat begitu kelam dan saat itulah siluet bayangan seorang ikhwan terekam fokus lensa kameraku. Kualihkan kedua manikku dari layar monitor kamera, menatap bayangan di sana.
Glekkk.
Ismail..
Sontak aku berbalik menjauh disaat yang sama kudengar suaranya menyebutkan namaku. Kakiku terus melangkah mengalahkan hati yang ternyata masih sempat untuk berhenti menanti panggilan selanjutnya. Hati ini merintih bersama tetesan hujan yang mulai merintik. Pesannya kemarin malam masih kuingat jelas.
Assalamu’alaykum, Mai. Semoga kamu di sana baik-baik saja dan masih Mai yang dulu. Dingin. Menyihirku untuk terus memikirkanmu. Umpan tak terbalas, apa dayaku. Kamu masih saja enggan memaafkan khilafku. Duh, apa sih nih. Mai, datang, ya, ke acara walimahku besok lusa. Ismail-melipat kenangan bersamamu.
Kuhembuskan nafas secara perlahan. Aku sadar, semua akan berlalu. Aku pun masihlah Mairah. Pelangi pun masih melengkung menoreh senyum padaku, seperti sekarang. Oh iya, hujan telah reda dari tadi.
SELESAI*
*Telah diterbitkan oleh Harian Amanah
Komentar
Posting Komentar