Antologi Rasa

15.12

Kelas telah selesai dari setengah jam lalu dan aku masih di sini. Di tangga lantai dua gedung syariah. Termenung, mencari kata yang tercecer entah ke mana. Begitu banyak cerita yang bisa kutulis tapi kata-kataku raib. Aku bisu tanpa bisa bertutur.

Empat pekan berlalu namun tugas menulis cerpen itu seakan menghantuiku di manapun aku berada. Bercerita, siapa sih yang gak bisa? Aku ahlinya. Tapi menuliskannya dengan rasa yang sampai ke pembaca, jujur, aku kesulitan. Menyentuh hati mereka, nyaris mustahil. Sudah tidak terbilang berapa puluh wordsheet di laptopku berisi cerita yang tak kunjung usai. Selalu buntu pada konflik. Katakan, bagaimana agar aku bisa merangkai kata?

Beberapa buku mellow bahkan lebay -kata mereka- kembali kuambil dari rak untuk dibaca. Mencoba meracik rasa yang selama ini kusadari tidak lagi bersamaku. Rasa, apakah aku tak berperasaan? Entah. Ibarat warna, rasaku tak lebih dari hitam-putih. Tenang, datar, dan ... hampa. Tapi aku menikmatinya hingga aku dipaksa untuk kembali menulis.

Sebelumnya aku tidak pernah menyangka, bahwa menutup hati tenyata mematikan kreativitasku juga. Salahkah diri ini? Kumohon, katakan tidak. Aku hanya terlalu lelah untuk terus berada pada siklus yang sama. Kagum, suka, berharap, lalu kembali membujuk hati tuk menghapus rasa yang tak semestinya.

16.12

Satu jam berlalu sejak aku duduk di tangga ini, masih tidak kutemui apa yang kucari dan hujan semakin deras, tentu saja.

"Hei, Aisyah, kok belum pulang?"

"Hujan."

"Lah, kalau hujan gak reda-reda juga, kamu di sini sampai magrib?"

"Iya."

Aku masih di sini, pulang ketika hujan telah reda. Dan rasa itu ... masih saja bersembunyi di antara genangan dan kenangan.[]

@Ma'had Al Birr, Makassar AM | 05/12/18

Komentar