Islam dan Isu-isu Kesehatan

Terkait kesehatan hari ini, tentu kalian sepakat menyebutnya seperti pepatah 'mati satu tumbuh seribu'. Belum selesai kasus yang satu muncul pula kasus lainnya bahkan lebih kompleks lagi.

Seperti HIV yang sampai hari ini dunia kedokteran buta bagaimana menanganinya kemudian kita dihadapkan lagi dengan virus MR yang ternyata dalam penanganannya ditemui pro-kontra dalam penggunaan vaksin yang disinyalir sebagai cara mengatasinya.

Kurangnya perhatian terhadap kesehatan didapuk sebagal pemegang andil terbesar sebagai penyebab berikut sarana dan prasarana yang tak memadai. Kurang lebih seperti itulah pemateri pertama seminar hari ini mendefinisikan.

ألا وإن في الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله، واذا فسدت فسد الجسد كله. الا وهي القلب

Ingatlah dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruhnya , jika ia buruk maka buruk pula seluruhnya. Dan ketahuilah bahwa ialah hati(jantung).

Berangkat dari hadist tersebut Imam Syamsi Ali memulai penuturannya, menanggapi ulasan di atas.

Hari ini kita masih saja terpengaruhi oleh teori-teori dari luar, menerimanya mentah-mentah tanpa mencoba mereservasinya terlebih dahulu. Padahal dalam Alquran tidak kurang dalam membahasnya. Bahkan dalam hadits pun turut menjelaskan. Misalnya, hadist tadi.

"Sekiranya kita tinjau lagi kita akan dapati 70% penyebab utama masalah kesehatan itu bermula dari mental yang tidak sehat. Di Amerika yang katanya jantung perekonomian, kondisi perekonomian di seluruh belahan dunia mendadak influenza saat perekenomian Amerika meriang. Tapi rumah sakit jiwa di sana berada di urutan pertama sebagai tempat paling ramai. Berjejer setelahnya, penjara dan bar-bar." Lanjut beliau.

Mereka punya materi, berlebih malah. Namun faktanya tak cukup untuk memberikan mereka ketenangan ataupun kepuasan. Kemaksiatan-kemaksiatan yang terus mereka lakoni adalah bukti nyata betapa jauh mereka melanggar fitrahnya. Akar dari isu-isu Kesehatan dewasa ini. (03/12/18)

----

Sungguh, apa yang telah Allah tetapkan itu baik adanya. Wa maa 'indallahi khaair.

* Late post, tentu saja:D

Sedikit komentar mengenai seminar hari ini, aku baru tahu kalau istilah siapa cepat dia dapat gak berlaku sama sekali. Intinya siapa yang punya jabatan beliau yang berhak. Jadi ceritanya, untuk pertama kalinya gua milih tempat duduk paling depan terus saat ruangan mulai penuh dan para -tetua- berdatangan, panita pelaksana meminta para peserta yang duduk di barisan pertama dan kedua untuk meninggalkan tempat. What the ?? Mau duduk di depan bok ya cepetan atuh datangnya. Ini kita bicara ilmu, para muhadditsin saja harus datang sehari untuk mengambil tempat saat mengikuti majlis ilmu. Dan kita, hari ini? Terlepas dari budaya timur yang katanya, bangsa beradab dan embel-embelnya yah. Please kita berada di lingkungan akademisi, objektiflah. Gak usah sentimen bawa harkat dan martabat. Apalagi umur.Kkkk:D Panitia, yang jelas donk ngaturnya.-_- Over all, kembali lagi ini gak lebih dari cuap-cuap gua yang hari ini masihlah seorang anak-yang selalu salah.:)

Komentar